Lukisan Kuda Api buatan presiden SBY dilelang 6,5miliar.
25 Februari 2026mleyott

Lukisan Kuda Api buatan presiden SBY dilelang 6,5miliar.

Lukisan "Kuda Api" yang dilelang sebesar Rp6,5 miliar kepada Low Tuck Kwong, dengan seluruh hasilnya dihibahkan untuk kegiatan kemanusiaan.


Pada tanggal 18 Februari 2026, bertempat di Ballroom Djakarta Theater, sebuah karya lukisan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang berjudul "Kuda Api", dilelang kepada para tamu undangan yang hadir di ruangan tersebut. Para tamu terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari politikus, konglomerat, hingga pesohor nasional. Lukisan ini merupakan karya orisinal yang dibuat langsung oleh beliau dan disiapkan secara khusus untuk momentum perayaan Tahun Baru Imlek 2026.

Pada pelelangan tersebut, harga awal dibuka sebesar Rp200 juta. Seiring berjalannya waktu, harga terus meningkat secara signifikan karena banyaknya peserta lelang yang tertarik dan bersaing untuk memilikinya. Setelah melalui proses penawaran yang kompetitif, lukisan tersebut akhirnya terjual dengan harga Rp6,5 miliar dan jatuh ke tangan Dato’ Low Tuck Kwong, seorang konglomerat yang dikenal luas dalam industri batu bara Indonesia. Hasil dari penjualan lukisan ini tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan dihibahkan sepenuhnya untuk kegiatan kemanusiaan, khususnya untuk membantu keluarga Tionghoa prasejahtera.

Secara fisik, lukisan "Kuda Api" merupakan karya seni lukis pada media kanvas, dibuat menggunakan teknik lukis manual dengan komposisi yang terencana. Lukisan ini dibuat pada periode menjelang perayaan Imlek 2026 sebagai bagian dari refleksi simbolik terhadap semangat tahun tersebut. Karya ini juga termasuk kategori karya orisinal tunggal, bukan reproduksi atau cetakan ulang, sehingga memiliki nilai eksklusivitas yang tinggi.

Hal yang membuat lukisan ini memiliki nilai yang sangat tinggi antara lain:

  1. Kelangkaan tema dalam karya beliau
    Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sangat jarang melukis objek hewan. Sebagian besar karya beliau didominasi oleh tema lanskap alam seperti pegunungan, laut, dan suasana alam lainnya. Tema kuda, khususnya dengan konsep simbolik seperti ini, merupakan sesuatu yang sangat jarang, bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu karya unik dalam koleksi beliau.

  2. Kelangkaan distribusi karya orisinal
    Beliau juga sangat jarang menjual karya lukisannya ke publik. Sebagian besar karya beliau disimpan secara pribadi atau ditempatkan di Museum dan Galeri Seni SBY-Ani sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan artistiknya. Oleh karena itu, kesempatan untuk memiliki karya orisinal secara langsung sangat terbatas.

  3. Makna filosofis yang terkandung dalam karya
    Lukisan ini dibuat khusus dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek 2026, yang secara simbolik berkaitan dengan semangat energi dan kekuatan. Menurut pernyataan beliau dalam acara tersebut, lukisan ini melambangkan kekuatan, energi, determinasi, semangat, dan pencapaian besar. Proses melukis juga dilakukan sebagai bentuk refleksi dan doa bagi Indonesia, dengan harapan munculnya semangat kolektif untuk memajukan bangsa.

  4. Momentum penggunaan warna
    Lukisan ini didominasi oleh warna biru dan merah. Warna biru merepresentasikan ketenangan, stabilitas, dan kedamaian, sementara elemen merah yang merepresentasikan api tidak digambarkan secara destruktif, melainkan sebagai simbol energi yang terkendali. Kombinasi ini menciptakan keseimbangan antara kekuatan dan ketenangan, menunjukkan energi yang terarah untuk tujuan yang konstruktif.

Secara teknis, lukisan ini menggunakan teknik dynamic diagonal position, yaitu teknik komposisi di mana objek utama ditempatkan secara diagonal, bukan horizontal atau vertikal. Teknik ini menciptakan kesan gerakan visual, seolah-olah kuda tersebut sedang bergerak maju. Secara persepsi visual manusia, komposisi diagonal memberikan efek dinamis, menciptakan energi visual, serta menimbulkan ketegangan komposisi yang membuat objek terlihat lebih hidup dan tidak statis. Teknik ini memperkuat kesan bahwa kuda tersebut bukan sekadar objek, melainkan simbol pergerakan, kekuatan, dan progres.

Secara keseluruhan, nilai lukisan ini tidak hanya berasal dari aspek visual, tetapi juga dari faktor kelangkaan karya, identitas pembuatnya sebagai tokoh nasional, momentum simbolik, makna filosofis, serta konteks sosial dan kemanusiaan yang menyertainya.