
Monkey Punch Tokyo
Anak monyet yang ditelantarkan oleh induknya. Dan ini alasannnya!
Saat ini media sosial sedang ramai membicarakan monyet Punch yang berasal dari Ichikawa City Zoo di wilayah Tokyo. Video yang diunggah oleh akun resmi kebun binatang tersebut menunjukkan seekor induk monyet yang tidak menerima kehadiran anak kandungnya. Dalam rekaman itu, sang anak diperlakukan tidak pantas diseret-seret dan ditegur oleh monyet lain dalam kelompoknya. Situasi tersebut membuat Punch tampak cemas dan tidak memiliki rasa aman.
Yang paling unik, ketika ia menjauh dari kelompoknya, ia mendekati sebuah boneka orangutan dan menggunakan boneka tersebut sebagai ibu pengganti. Sejak saat itu, banyak video memperlihatkan Punch sering berada bersama bonekanya. Diketahui boneka tersebut diberikan oleh penjaga kebun binatang, dibeli dari IKEA, setelah mereka menyadari kondisi psikologis Punch yang membutuhkan objek kenyamanan.

Mengapa Induknya Menelantarkannya?
Proses kelahiran yang traumatis.
Peko kemungkinan mengalami persalinan yang sangat sulit sehingga mengalami syok fisik maupun stres berat. Dalam kondisi seperti ini, produksi hormon oksitosin(rasa kasih sayang) yang berperan dalam pembentukan ikatan emosional antara induk dan bayi dapat terganggu. Jika ikatan tersebut tidak terbentuk, bayi bisa dianggap sebagai beban atau sumber gangguan.
Kurangnya pengalaman.
Peko adalah ibu baru. Pada primata yang hidup di penangkaran, perilaku keibuan tidak selalu muncul secara otomatis. Dibutuhkan proses belajar sosial, termasuk melihat induk lain merawat anaknya sebagai role model. Jika pengalaman tersebut minim, respons pengasuhan bisa tidak optimal.
Kondisi kesehatan bayi.
Secara naluriah, hewan memiliki insting untuk menilai kondisi anaknya. Jika induk mendeteksi kelemahan tertentu meskipun secara kasatmata bayi tampak sehat ia bisa menunjukkan penolakan. Dalam perspektif biologis, ini berkaitan dengan seleksi dan efisiensi energi reproduksi.
Kondisi Punch Saat Ini
Menurut informasi dari pihak kebun binatang, Punch mulai menunjukkan perkembangan positif. Ia sempat dipeluk dan digrooming oleh monyet dewasa lain. Dalam struktur sosial primata, pelukan dan grooming merupakan tanda penerimaan sosial serta pembentukan ikatan dalam kelompok.
Kini Punch mulai berani berinteraksi aktif dengan kawanannya. Namun, ia masih sesekali menerima perlakuan yang kurang nyaman dari beberapa individu lain, yang membuatnya kembali mencari rasa aman pada bonekanya. Proses ini menunjukkan bahwa integrasi sosialnya masih berlangsung dan belum sepenuhnya stabil.

Hukum Alam
Pernyataan bahwa “hal ini sudah menjadi hukum alam dan biasa terjadi di alam liar” perlu dijelaskan secara lebih rinci. Dalam populasi primata liar, penolakan atau pengabaian anak memang tercatat terjadi dalam kondisi tertentu, seperti stres lingkungan, kekurangan sumber daya, persalinan bermasalah, atau induk yang belum berpengalaman. Struktur sosial primata juga bersifat hierarkis; interaksi keras atau peneguran fisik terhadap individu muda bisa menjadi bagian dari proses pembelajaran sosial.
Namun, “biasa terjadi” tidak berarti tanpa konsekuensi. Di alam liar, anak yang tidak mendapatkan dukungan induk memiliki risiko kelangsungan hidup yang lebih rendah. Dalam konteks kebun binatang, intervensi manusia dilakukan untuk meminimalkan risiko tersebut dan menjaga kesejahteraan hewan. Dengan demikian, fenomena ini dapat dipahami sebagai respons biologis dalam kondisi tertentu, bukan sebagai tindakan yang dinilai secara moral.