
Sebuah Cara Untuk Seekor Anjing Mengeluarkan Air Liur
Konsep classical conditioning adalah konsep yang menghubungkan dua stimulus, sehingga stimulus yang awalnya netral dapat memicu respons tertentu setelah diasosiasikan berulang kali dengan stimulus alami.
Bayangkan kamu mendengar bunyi bel... dan tiba-tiba mulutmu terasa ingin ngiler, padahal tidak ada makanan di depanmu. Kedengarannya aneh? Itulah yang terjadi pada anjing Ivan Pavlov dalam eksperimen klasiknya.

Ivan Pavlov adalah ilmuwan Rusia yang menemukan konsep classical conditioning. Dalam eksperimennya yang sederhana ia menemukan pola berikut:
Mengeluarkan air liur adalah refleks alami anjing saat melihat makanan. Sedangkan jika diperdengarkan bunyi bel, anjing tidak akan memberi reaksi air liur.
Namun, saat Pavlov membunyikan bel dan memberi makanan secara berulang, lama-kelamaan hanya bunyi bel belaka dapat membuat anjingnya mengeluarkan air liur.
Pavlov membagi hasil eksperimennya menjadi:
Unconditioned Stimulus(US). US adalah stimulus alami yang memicu respon tanpa belajar. Contoh: dengan makanan, anjing otomatis mengeluarkan air liur.
Unconditioned Response(UR). UR adalah respon alami terhadap US. Misalnya air liur yang keluar karena melihat makanan.
Conditioned Stimulus(CS). Stimulus yang awalnya netral tapi kemudian menimbulkan respon karena dikaitkan dengan US. Contohnya bunyi bel, awalnya tidak ada reaksi, tapi setelah dikondisikan, anjing mengeluarkan air liur.
Conditioned Response(CR). Respon yang muncul karena CS. Misalnya air liur yang keluar ketika hanya mendengar bunyi bel saja.
Terbayang, kan? Ada juga contoh dalam dunia modern. Misalnya, kelas itu sebetulnya tempat belajar, tapi bagi orang yang memiliki fineshyt di situ, kelas sudah menjadi medan jantung berpacu. Di mana fineshyt bisa dibaca sebagai CS dan berpacunya jantung dapat dibaca sebagai CR.