Mengapa Bayi Penyu Dibiarkan Berjalan Sendiri ke Laut?
2 Maret 2026mleyott

Mengapa Bayi Penyu Dibiarkan Berjalan Sendiri ke Laut?

Alasan ilmiah mengapa bayi penyu tidak langsung dibantu manusia menuju laut, melainkan dibiarkan berjalan sendiri sebagai bagian dari proses biologis alami.


Penyu termasuk hewan purba yang masih hidup sampai saat ini. Ilmuwan memperkirakan usia penyu setara dengan dinosaurus. Sudah ada sejak zaman Zura, yaitu sekitar 145 sampai 208 juta tahun yang lalu. Sekarang yang tersisa dan bertahan hanya sedikit jenis saja, antara lain: penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, penyu belimbing, penyu pipih, penyu tempayan, dan penyu kempi.

Mungkin kalian sering mendengar tentang manusia yang harus membiarkan tukik itu berjalan sendiri menuju laut. Manusia dilarang memegang ataupun membawa langsung tukik ke laut. Tapi kalian mungkin juga sering bertanya-tanya: kenapa dilarang?

Induk penyu akan bertelur di pesisir pantai. Cara bertelurnya ini sangat unik, tapi ada manfaatnya, yaitu dengan cara dikubur. Dengan dikubur, ini akan mencegah sekaligus menyelamatkan kehidupan tukik saat di dalam telur. Tujuannya adalah untuk mencegah hewan predator yang ada di sekitarnya, seperti burung camar atau burung laut lainnya, yang memangsa tukik.

Siklus Hidup Penyu

Induk penyu, setiap 2 sampai 4 tahun sekali, akan kembali bertelur lagi. Setiap 2 minggu selama 2 hingga 6 siklus, mereka bertelur 65 hingga 180 butir, sehingga total telur di sarang bisa mencapai 1.000 butir. Mereka biasanya kembali ke tempat mereka menetas sebelumnya.

Fase pertama dari kehidupan penyu adalah bertelur. Induk penyu akan kembali ke pesisir pantai sebelumnya. Saat mereka menetas dulu, mereka akan membuat galian lubang kecil di pasir pantai untuk menyimpan telur, dengan cara menggunakan sirip belakangnya untuk menggali lubang. Setelah bertelur, mereka akan kembali ke laut lepas dan meninggalkan telurnya di pantai.

Fase kedua itu telur-telur akan diinkubasi oleh pasir pantai. Proses inkubasi ini memakan waktu 45 sampai 70 hari. Kondisi suhu juga akan menentukan jenis kelaminnya. Dalam suhu hangat, tukik akan menetas dengan jenis kelamin perempuan. Kalau suhu pasirnya dingin, maka tukik akan menetas dengan jenis laki-laki.

Fase ketiga yaitu menetas dan menuju ke laut. Setelah menetas, tukik tidak langsung menggali ke atas, justru menunggu suhu pasir rendah lalu menggali ke atas. Pada saat malam hari, suhu pasir akan mendingin. Di saat inilah tukik berani untuk keluar dari sarangnya. Ini diupayakan untuk mengurangi risiko dimakan oleh banyak hewan predator di siang hari. Setelah dirasa aman, mereka buru-buru kembali ke laut dan menjalani kehidupan barunya.

Fase keempat adalah masa juvenil atau masa remaja yang biasa disebut "Tahun-tahun yang hilang". Penyu muda sudah sampai di laut lepas. Mereka menjalani hidup dengan berpindah-pindah tempat untuk mencari tempat yang kaya akan sumber daya atau makanan yang bisa mereka makan untuk tumbuh dan berkembang. Mereka sering makan ubur-ubur dan rumput laut sebagai makanan utamanya. Fase ini berlangsung hingga bertahun-tahun.

Fase terakhir, saat menjadi dewasa. Setelah matang secara seksual sekitar usia 10 sampai 30 tahun, tergantung spesiesnya, mereka akan bermigrasi ribuan kilometer untuk mencari daerah tempat mereka berlindung dan untuk mencari pasangan kawinnya.

Saat musim reproduksi, penyu betina akan kembali ke tempat mereka menetas sebelumnya. Ini akan mengulangi siklus dan melanjutkan generasi berikutnya.

Mengapa tidak boleh dipegang?

Kalau kalian sebagai pengunjung di pantai dan melihat gerombolan tukik sedang menuju ke laut, maka kalian dilarang untuk menyentuh, terutama diajak untuk swafoto. Dan juga memfoto tukik dengan keadaan kamera flash menyala, itu sangat membahayakan tukik, karena bisa menimbulkan kebingungan.

Alasan tidak boleh dipegang yaitu cangkang tukik sangatlah rapuh. Orang yang tidak profesional atau terlatih akan bisa merusak cangkang tersebut. Maka dari itu, disarankan kalau penyu dalam masalah, bisa memanggil orang yang sudah profesional.

Selain cangkangnya yang rapuh, tangan manusia bisa memecahkan kantung makanan mereka. Fungsi kantung ini adalah untuk menyimpan makanan untuk tukik agar setelah menetas dan menuju ke laut lepas, tukik bisa bertahan hidup sementara untuk beberapa hari tanpa makanan. Mereka perlu beradaptasi untuk berburu dan mencari makanan.

Selain itu juga, agar penyu bisa mengingat jalan atau tempat mereka menetas, untuk menetaskan telur mereka di kemudian hari. Ini dikenal sebagai proses imprinting.

Maka dari itu, manusia tidak diperbolehkan untuk memegang langsung kecuali benar-benar dibutuhkan. Jika untuk ujian penelitian itu diperbolehkan saja, manfaatnya juga untuk kepentingan penyu itu sendiri.

Kapan manusia boleh membantu penyu?

Intervensi manusia boleh dilakukan asalkan sesuai kondisi si tukik tersebut dan jika itu memang terpaksa.

  1. Manusia boleh membantu menyingkirkan hewan predator yang akan memangsa si tukik tersebut, guna melindungi keberlanjutan hidup tukiknya. Ini adalah bantuan yang penting karena masalah terbesar yang mengancam nyawa si tukik.

  2. Manusia boleh membantu jika tukik salah jalan. Tukik akan menuju ke sumber cahaya yang ada di laut. Cahaya tersebut berasal dari bulan atau cakrawala. Saat ini, terdapat banyak cahaya tambahan di pantai, seperti lampu-lampu jalan dan lampu rumah, bar, atau kafe. Manusia bisa membantu dengan menggunakan cahaya merah untuk memandu si tukik menuju laut lepas.

Kepunahan Penyu

Semua jenis penyu tersebut, kecuali penyu pipih, dimasukkan sebagai hewan yang dilindungi baik oleh peraturan nasional maupun internasional. Badan Konservasi Dunia (IUCN) memasukkan penyu belimbing, penyu Kemp’s ridley dan penyu sisik sebagai satwa sangat terancam punah (critically endangered). Sementara penyu hijau, penyu lekang dan penyu tempayan digolongkan sebagai terancam punah (endangered).

Sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) memasukkan semua jenis penyu dalam Appendix I, yang artinya dilarang diperdagangkan untuk tujuan komersial.

Jenis dan ciri Masing-masing Penyu

Saat ini terdapat 7 spesies penyu laut yang masih hidup.

  1. Penyu Kemp's Ridley(Lepidochelys). Penyu ini adalah spesies penyu yang paling langka saat ini. Populasinya paling sedikit. Secara historis, diperkirakan populasi dari penyu ini sempat turun drastis pada abad ke-20 akibat perburuan telur; kini ada pemulihan parsial, tetapi tetap menjadi spesies yang langka dan masuk kategori kritis. Karakteristik yang dimilikinya yaitu ukuran yang kecil, mirip penyu lekang tetapi sedikit lebih kecil, memiliki panjang sekitar 55-75 cm dan berat 25-50 kg. Kerapas berbentuk hati berwarna abu-abu kehijauan, kepala segitiga, dan satu-satunya penyu yang bertelur secara massal pada siang hari di pantai Meksiko dan Texas.

  1. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Penyu ini populasinya juga sempat menurun secara global karena tempurung atau kerapasnya diperdagangkan dan degradasi terumbu karang. Ini masuk dalam kategori kritis. Karakteristik yang dimilikinya yaitu memiliki paruh runcing seperti paruh burung; sisik kerapas saling tumpang tindih. Memiliki panjang sekitar 60-90 cm dan berat sekitar 40-70 kg.

  1. Penyu Hijau (Chelonia mydas). Penyu ini merupakan salah satu spesies yang persebarannya paling luas di perairan tropis dan subtropis. Secara global, populasinya mengalami penurunan akibat perburuan telur, perburuan individu dewasa, degradasi habitat pantai, serta tertangkap tidak sengaja dalam perikanan. Spesies ini dikategorikan terancam (endangered). Karakteristik yang dimilikinya yaitu ukuran tubuh besar dengan panjang sekitar 80–120 cm dan berat yang dapat melebihi 150 kg. Kerapas berbentuk oval halus berwarna hijau kecokelatan. Disebut “hijau” karena warna lemak tubuhnya. Berbeda dengan sebagian besar penyu laut lain, penyu hijau dewasa bersifat herbivora dan memakan lamun serta alga.

  1. Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea). Penyu ini adalah spesies penyu laut terbesar yang masih hidup saat ini. Populasinya menurun di banyak wilayah akibat konsumsi plastik (yang disangka ubur-ubur), perikanan tangkap, dan perubahan iklim. Status konservasinya secara global tergolong rentan, dengan beberapa subpopulasi berstatus lebih kritis. Karakteristiknya yaitu tidak memiliki kerapas keras bersisik seperti penyu lain; bagian punggungnya berupa kulit tebal elastis dengan tujuh tonjolan memanjang. Panjang tubuhnya dapat melebihi 180 cm dan beratnya bisa lebih dari 500 kg. Penyu ini mampu menyelam sangat dalam dan bermigrasi lintas samudra.

  1. Penyu Tempayan (Caretta caretta). Penyu ini memiliki persebaran luas di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Populasinya terancam oleh aktivitas perikanan, pembangunan pesisir, dan pencemaran laut. Statusnya tergolong rentan. Karakteristik utama yang dimilikinya yaitu kepala besar dengan rahang sangat kuat untuk menghancurkan cangkang moluska dan krustasea. Panjang tubuhnya sekitar 70–110 cm dengan berat 70–180 kg. Kerapas berwarna cokelat kemerahan dan berbentuk agak membulat.

  1. Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Penyu ini dikenal sebagai salah satu spesies dengan fenomena bertelur massal (arribada) dalam jumlah besar pada waktu yang sama di satu pantai. Meskipun populasinya relatif lebih banyak dibandingkan dengan beberapa spesies lain, tetap menghadapi ancaman dari perburuan telur dan tangkapan sampingan perikanan. Statusnya tergolong rentan. Karakteristiknya yaitu ukuran relatif kecil dengan panjang sekitar 60–70 cm dan berat 35–50 kg. Kerapas berbentuk hampir bulat berwarna hijau zaitun.

  1. Penyu Pipih (Natator depressus). Penyu ini memiliki persebaran terbatas di perairan utara Australia dan termasuk spesies dengan data biologis yang lebih sedikit dibandingkan dengan penyu lain. Ancaman utamanya berasal dari aktivitas pesisir dan predator alami di wilayah terbatas tersebut. Status konservasinya dikategorikan rentan. Karakteristik yang dimilikinya yaitu kerapas lebih datar dibandingkan dengan spesies lain, dengan panjang sekitar 80–100 cm dan berat 70–90 kg. Warna kerapas cenderung abu-abu kehijauan dan tubuh relatif lebih pipih.

Pesan

Sekarang ini sangat banyak oknum-oknum yang menangkap tukik untuk diternak. Yang paling parah adalah cangkangnya dijadikan suvenir. Hal ini melanggar hukum. Maka kita sebagai pengunjung ataupun turis harus menjaga alam di pantai. Sangat mengganggu hukum alam, dan kita harus tidak membeli suvenir tersebut.